Monday, August 15, 2016

BAB 4


Seminggu kemudian.

Ray bertamu ke rumah Diana. Rumah mewah dengan pagar yang sangat tinggi. Tidak akan ada orang yangtahu dan ambil perduli terhadap kejadian apapun di balik pagar itu. Bahkan sang satpam penjaga rumah yang membukakan pagar pun tidak tahu bahwa majikannya sedang menyusupkan seorang lelaki tampan di mobilnya. Para pembantu sudah tidur, dan anak-anaknya telah diaturnya untuk menginap di rumah sang nenek.

Mereka bercinta dengan sangat panas malam itu. Sepanjang hidupnya, Diana belum pernah merasakan kenikmatan sedalam dan sedahsyat yang diberikan Ray. “You are a fucking sex god,” bisik Diana dalam kelemahannya di dalam pelukan Ray.

“And you are the most beautiful angel I have ever seen,” bisik Ray.

Entah berapa lama mereka bercinta. Entah berapa kali puncak kenikmatan itu mereka rengkuh. Kini Diana telah tertidur. Tentu saja Ray telah memijit titik-titik akunpunturnya agar ia tertidur dengan sangat lelap.

Setelah memakai bajunya, Ray keluar. Hampir seluruh lampu dalam rumah itu memang sudah dimatikan sejak tadi. Ia bergerak di dalam bayang-bayang. Ray telah menguasai seluruh isi rumah hanya dalam satu kali pandang. Ia telah mengetahui semua letak-letak ruangan. Di dalam bayang-bayang ia bergerak. Dalam satu gerakan ia telah berhasil turun dari lantai dua ke lantai satu dengan ringan dan halus. Ia bergerak tanpa suara bagaikan kucing hitam di malam hari.

Setelah berhasil mengunci kamar-kamar pembantu dari luar dengan menggunakan alat yang sudah ia persiapkan sejak awal, Ray kembali melompat dan memanjat ke lantai atas. Sangat cepat dan ringan. Latihan parkour yang sudah ditekuninya bertahun-tahun membuat ia begitu mudah bergerak seperti ini.

Ia lalu menuju ke sebuah kamar. Kamar yang merupakan incarannya sejak beberapa minggu yang lalu. Dengan mudah Ray membuka kamar yang terkunci itu dengan alat yang dibawanya pula. Kamar ini adalah kamar kerja milik Garlas Tambora. Seorang pegawai tinggi Dinas Perpajakkan yang ditengarai memiliki catatan-catatan penting mengenai tindak korupsi para petinggi negeri ini. Tetapi aparat penegak hukum belum dapat bergerak karena belum menemukan bukti. Inspektur Aditya Warman telah meminta Rayden untuk menangani kasus ini.

Dengan cepat Ray masuk ke dalam dan menutup kembali pintunya. Ia menggunakan kaca mata infra merah untuk melihat dalam gelap. Gerakannya lincah dan cermat, matanya menyapu seisi ruangan dan menyelidiki setiap sudutnya. Sesudah memahami dan menghafal semuanya, Ray menuju ke sebuah komputer yang berada di atas meja kerja. Komputer ini tidak tersambung dengan internet sehingga Mara tidak mungkin meretasnya. Dibutuhkan akses langsung agar seluruh data di dalam komputer itu bisa diketahui.

Ray menyalakan komputer itu dan menancapkan sebuah flash disk. Flash disk itu berisi sebuah “virus” dan pemancar sinyal. Dengan begitu, Mara dapat meretasnya dengan mudah. Diperlukan waktu yang tidak begitu lama bagi Mara untuk meretasnya. Sambil menunggu, Ray membuka lemari besi tempat penyimpanan barang berharga. Tidak sulit bagi Ray untuk membukanya. Tidak ada surat-surat berharga dan bukti-bukti yang dicarinya di sana.

Begitu Mara selesai, Ray mencabut flash disk itu dan segera keluar. Ia sempat mengunci kembali kamar kerja itu, mencopot alat-alat yang ia pasang di beberapa kamar pembantu dan kembali ke kamar tidur Diana.

Jam 4 subuh, Diana terbangun. Ray masih tertidur dengan pulas di sebelahnya. “Sayang, ayo bangun. Aku harus mengantarmu pulang sebelum para pembantu bangun.”

oOo

Malam pagelaran busana untuk penggalangan dana bagi anak-anak penderita kanker di Singapura.

 Sebuah fashion showinternasional megah yang dihadiri kalangan jet set dan para sosialita. Ray selalu suka datang di acara ini. Apalagi untuk bertemu dengan sahabatnya, seorang supermodel maha cantik dari Rusia, Savana Ruminova. Ray pernah membantunya. Bahkan Ray pula yang mencarikan jalan di dunia modelling untuknya.

Makan malam telah selesai, fashion show telah selesai, penggalangan dana telah selesai. Kini para model berbaur dengan para tamu untuk menikmati sebuah standing party dan sekedar mengobrol. Savana menggandeng tangan Ray dengan mesra.

“Kapan kau akan datang mengunjungiku ke New York?” mereka berbicara dalam bahasa Rusia.

“Tidak perlu,” jawab Ray.

“Kenapa? Kau jahat!”

“Tanpa perlu ku kunjungi, kau sudah datang sendiri ke sini,” tawa pria tampan itu.

Savana mencubit lengannya dengan perlahan, “Kau memang benar-benar jahat!”

“Aku hanya akan datang jika kau memerlukan bantuanku. Sekarang hidupmu telah sempurna. Karirmu melambung tinggi. Kau tidak memerlukan aku di dalam hidupmu,” kata Ray sungguh-sungguh.

“Tapi aku merindukanmu. Kau tahu bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu,” para wanita Rusia memang tidak pernah ragu-ragu mengungkapkan isi hati mereka.

“Dan kau tahu pula, hidupku penuh petualangan. Semakin kita bersama, semakin kau akan merasakan kesepian,” Ray menatapnya dengan dalam. Jurus andalan yang selalu berhasil ia gunakan.

“Jika kau mengajakku pergi, sekarang juga akan ku tinggalkan karirku dan pergi bersamamu,” Savana memandangnya dengan sungguh-sungguh pula. Mata itu tajam. Berwarna hijau sempurna. Rambutnya pirang kecoklatan. Tulang pipinya tinggi. Bibirnya tipis merekah dengan begitu mempesona.

Jika ada seorang lelaki “sempurna” yang mengajaknya pergi, seorang perempuan memang terkadang rela meninggalkan segala hal. Termasuk suami dan anak-anaknya.

Tapi Savana belum menikah. Meskipun ia berganti-ganti pacar, sejak dahulu hatinya telah ia berikan seluruhnya kepada Ray. Seorang perempuan yang telah memberikan hatinya seutuhnya kepada seorang lelaki, tidak lagi merasa hidupnya sendiri berharga.

Ray mengerti ini. Karena itu ia justru berharap Savana lebih menghargai hidupnya sendiri. Mendaki karir yang susah payah ia usahakan sendiri, dengan segala keringat dan air mata. Ray ingin Savana hidup sehidup-hidupnya, menikmati segala kemewahan yang tidak wanita itu rasakan sebelumnya.

Karena itulah Ray tak ingin berada di dalam hidup Savana. Karena siapapun orangnya, jika masuk dalam kehidupan Ray, ia akan menderita. Ray selalu percaya hal itu. Oleh sebab itu, perasaan bersalah dan berdosa tidak pernah bisa ia hilangkan dari dalam dirinya.

Ray menggandeng tangan Savana dan membawanya menikmati udara segara di luar. Sebuah balkon di lantai atas sebuah bangunan megah yang tinggi menjulang. Mereka menghabiskan waktu bercerita dan menikmati suasana indah malam itu.

Bintang-bintang bersinar indah.

Sebuah pesan rahasia masuk ke dalam handphonenya.

Trix: I’m going.

oOo


Garlas Tambora baru saja memasuki taxi, setelah keluar dari sebuah casinoMarina Bay. “Ke hotel Grand Royal,” katanya.

Si supir ternyata seorang wanita. Wanita menoleh dan tersenyum, tetapitiba-tiba ia menembakkan sebuah taser, senjata kejut yang dapat membuat seseorang pingsan. Segalanya kemudian gelap bagi Garlas Tambora.

Taxi kemudian melaju kencang ke sebuah bangunan di area dermaga. Bangunan ini diliputi pagar yang tinggi. Tak ada seorang pun yang bisa mengetahui apa yang terjadi di sana. Ternyata Ray sudah berada di sana. Bahkan ia pula yang membukakan pintu pagar dengan perlahan-lahan.

Ray menggunakan sebuah balclava (sejenis topeng ski) untuk menutup mukanya. Pakaiannya yang ringkas dan berwarna hitam, serta tutup wajah yang dipakainya, membuatnya terlihat bagai seorang ninja.Trix pun menggunakan tutup wajah yang sama dengan yang dipakai Ray.

Dengan sigap mereka berdua mengeluarkan Garlas dari bagian belakang taxi. “Cepat, sebelum para penyelundup-penyelundup itu datang!” bisik Ray perlahan. Dalam perjalanan tadi, rupanya Trix telah menyumpal mulut Garlas, dan memborgol kaki dan tangan lelaki itu. Pria itu memang masih pingsan sejak ditembak Trix dengan taser.

Mereka lalu membawa Garlas ke sebuah gudang yang gelap gulita. Kemudian memasukkan lelaki itu ke dalam sebuah peti. Setelah itu, Ray menyuntikkan sebuah cairan melalui lengan Garlas. Cairan ini untuk memberi kekuatan kepada Garlas agar ia bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum selama hampir 2 hari perjalanan. Ray kemudian memasukkan sebuah flash disk berisi data-data yang dicurinya dari rumah Garlas ke dalam kantong pria itu.

Peti ditutup dan Ray menyegelnya. Ada banyak peti  di ruangan itu. Semuanya memiliki tampilan yang sama. Tak ada seorang pun yang bisa mengetahui keberadaan Garlas di salah satu peti itu. Yang membedakan hanyalah lubang-lubang kecil pada peti yang dibuat Ray agar Garlas dapat bernafas.

Peti-peti ini berisi barang-barang mewah yang akan diselundupkan ke Indonesia melalui jalur laut.

Tiba-tiba lampu menyala!

“Who’s that?!”

Ketahuan!

“Thief! Maling! We have thieves here!” teriak orang yang menyalakan lampu, dengan logat Singapuranya yang khas.

Terdengar suara kaki berlari mendekat. Ada 7 orang yang datang. Masing-masing membawa senjata tajam di tangannya!

Ray menyuruh Trix bersembunyi di balik peti-peti.

Lelaki tampan itu tidak panik. Ia pernah menghadapi orang yang jumlahnya lebih banyak daripada sekarang. Saat itu ia membunuh mereka semua. Membunuh memang jauh lebih mudah daripada membiarkan hidup. Tapi ia butuh mereka untuk tetap hidup. Garlas Tambora harus berhasil diselundupkan ke Indonesia.

Serangan pertama pun datang!

Sebuah golok menyambar lehernya. Tetapi sebelum golok itu mencapai lehernya, Ray telah mampu mencengkeram tangan itu, dan dengan sebuah gerakan yang halus dan indah, telah mampu mengunci lengan itu dari belakang.

Klontang!

Golok pun jatuh di lantai. Sebuah kuncian yang membuat penyerang itu tak berdaya. Ray bahkan hanya menggunakan satu tangan untuk mengunci orang itu. Tangan yang satunya lagi telah memungut golok.

Come forward, semua!” tantang Ray dengan logat Singapura yang sempurna.
Sejenak para penyerang itu ragu-ragu. “Kita serang together a? If together he will not win!” kata salah seorang. Yang lain sepakat sambil menganggukkan kepala. Mereka bergerak bersama-sama. Jika orang lain yang menghadapi serangan keroyokan seperti ini, ia tentu akan panik dan ketakutan. Tetapi Ray bukan orang lain. Ia menguasai Gracie Jiu Jitsu, Aikido, Jeet Kune Do, dan Krav Maga dengan sempurna. Ia telah mengalami ratusan bahkan ribuan pertempuran.

Dengan pintar Ray menggunakan orang yang dikuncinya itu sebagai tameng. Ray menyodorkannya ke depan, sehingga para penyerang sejenak ragu karena mereka tidak mau menyerang kawan sendiri.  Keraguan yang sedetik itu dimanfaatkan Ray dengan baik. Kakinya bergerak dengan sangat cepat. Tak ada mata yang sanggup melihat bagaimana tendangan itu dilakukan!

Dalam sekali gerakan, Ray telah melayangkan 3 tendangan masing-masing ke 3 orang penyerangnya. Tendangan yang pertama menghajar dagu penyerang dari sebelah kanan. Tendangan yang kedua menghajar ulu hati penyerang yang berada di depannya. Sedangkan tendangan ketiga menghujam selangkangan seorang penyerang yang mencoba bergerak dari belakang Ray.

Mereka semua jatuh terjengkang dan mengaduh. Tak ada seorang pun dari mereka yang sanggup berdiri!

Sisa 3 orang penyerang lagi. Mereka semua diam tidak bergerak. Dalam hati mereka begitu ketakutan melihat bagaimana orang bertopeng di hadapan mereka ini bergerak.Ia sama sekali tidak pindah dari tempatnya berdiri. Tangan kirinya masih mengunci lawan, sedangkan tangan kanannya memegang golok. Tapi golok itu belum digunakan sekali pun, hanya sebuah kaki  yang bergerak begitu cepat. Ia telah merobohkan 3 orang!

Jika para penyelundup ini tahu kemampuan Ray yang sebenarnya, mereka tentu akan memilih meletakkan senjata secepatnya dan lari terbirit-birit sejauh-jauhnya. Sayangnya mereka tidak tahu. Karena itu mereka pun kini sudah jatuh terkapar pula ketika Ray telah bergerak. Entah bagaimana ia bergerak. Entah bagaimana ia menyerang. Tapi semua orang paham, jika ia bergerak, pada akhirnya lawan-lawannya akan tergeletak dan ia akan berdiri sendirian dengan gagah sebagai seorang pemenang.

Ray lalu menghajar tengkuk orang yang dikuncinya sejak tadi. Lalu perkelahian ini selesai. Semua ini dituliskan dengan sangat mudah, namun gerakan yang Ray buat sama sekali tidak mudah dan sulit dijelaskan.

Ketika Ray menoleh pada Trix, wanita cantik itu sedang asik duduk di atas sebuah peti dan makan roti sandwich. “Eh, orang lain mengadu nyawa, kamu malah makan,” tukas Ray.

“Gue belum sempat makan tadi. Haha,” tawa Trix.

Trix tertawa karena ia tahu, Ray tidak pernah membutuhkan bantuan orang lain ketika berkelahi. Ia pun tahu, jika Ray sedang berkelahi, maka cara terbaik yang bisa ia lakukan hanyalah menontonnya dengan santai. Karena Trix yakin, meskipun langit runtuh pun, Ray pasti akan melindunginya.

oOo

Ray membaca berita di sebuah situs berita di internet. Polisi menemukan Garlas Tambora yang selama ini dicari kepolisian dan KPK. Pegawai tinggi Dinas Perpajakan ini ditengarai melarikan diri karena berusaha menyembunyikan bukti-bukti korupsi beberapa pejabat pemerintah. Penemuan buronan ini terjadi secara tidak sengaja. Ia ditemukan berada di sebuah kapal penyelundup yang selama ini menyelundupkan barang-barang elektronik dari Singapura. Awalnya aparat begitu kaget ketika kapal yang mereka tangkap ternyata berisi buronan Indonesia yang paling dicari.

Mara yang juga ikut membaca, tertawa senang. “Untung kakak bisa membobol masuk rumahnya. Data-data penting sudah berhasil ia hapus dari komputernya sebelum ia kabur. Tapi terima kasih untuk dunia digital, data apapun yang sudah dihapus, bisa dikembalikan asal kita tahu caranya.”

Dari data-data itu, polisi mempunyai bukti untuk membawa beberapa pejabat tinggi ke pengadilan. Ray hanya melengos, “Bukti-bukti ini sangat memberatkan, tapi kita tidak dapat berharap banyak pada pengadilan dan penegakan hukum di Indonesia.”

“Lalu apa yang akan kakak lakukan terhadap para tersangka?”

“Kita tunggu hasil pengadilan. Jika mengecewakan, aku akan membunuh mereka semua.”

Sebuah pesan masuk di page Facebook “Official:Rayden”.

Aditya Warman: Saya tidak tahu bagaimana, tapi saya tahu anda lah yang berperan dalam penangkapan Garlas Tambora. Kami sangat berterima kasih. Apalagi semua data-data dan berkas yang penting, telah kami temukan di sebuah flash disk di dalam kantongnya.

Rayden: Indonesia berhak mendapatkan keadilan.

Aditya Warman: Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Bagaimana cara kami membalas jasa-jasa anda?

Rayden: Jadilah penegak hukum yang jujur.

Ray kemudian mematikan sambungan dan menutup Facebooknya.

“Kakak mau kemana?” tanya Mara.

“Mau latihan menembak, di Perbakin,”

“Latihan menembak? Masih perlu latihan? Hahaha.”

“Tidak. Tapi banyak orang yang bisa kakak temui di sana,” jawab Ray santai.
Dan dugaan Ray benar. Banyak sekali orang penting dan kalangan atas yang menjadi anggota klub menembak resmi ini. Ia sangat tertarik untuk meluaskan pergaulannya siapa tahu berguna untuk tugas-tugasnya di masa depan.

Latihan pertama berlangsung dengan sukses. Ray berpura-pura bodoh dalam hal ini sehingga sang pelatih harus mengajarkannya beberapa kali. Tidak banyak orang yang datang hari itu. Tapi Ray cukup puas. Ternyata ada beberapa orang penting di negeri ini yang juga menjadi anggota. Ini diketahuinya saat membaca nama-nama anggota yang tercantum dalam berkas keanggotaan. Ada nama Aditya Warman di sana, tercantum sebagai salah seorang pelatih. Sang inspektur yang sering meminta bantuannya? Hmmm, menarik. Jika berkenalan lebih akrab, tentu akan sangat membantu sekali, pikir Ray. Ia tertarik untuk bertemu sang Inspektur, sayangnya polisi jujur itu tidak datang hari ini.

Sepulang latihan, Ray mampir ke rumah Ayla. Artis sinteron yang cantik itu kebetulan tidak ada jadwal syuting hari ini. Dengan pakaian santainya, Ayla justru terlihat lebih cantik. Begitu membuka pintu untuk Ray, gadis itu pura-pura cemberut.

“Baru muncul sekarang. Tumben masih inget rumah aku,” katanya.

Ray hanya tersenyum. Ia membawa sebuah oleh-oleh dari Singapura berupa beberapa makanan ringan kesukaan Ayla yang tidak dijual di Indonesia. Ia juga membelikan sebuah gaun mahal yang dibelinya di malam penggalangan dana beberapa hari yang lalu. Ayla menerima hadiah itu dengan terpana. Ia tahu gaun seperti ini mahal sekali harganya.

“Terima kasih. Kamu baik banget,” ia berjinjit lalu mencium pipi Ray. “Yuk, ke dalam. Papa Mama lagi ke kantor. Cuma ada pembantu.”

Jika seorang perempuan mengatakan rumahnya sedang kosong, tentulah ia memiliki maksud tertentu. Sebagai seorang lelaki yang berpengalaman, tentu saja Ray tahu ini.

Mereka berdua ngobrol di lantai atas sambil duduk di sofa dan menonton TV kabel. Tambah lama tubuh mereka saling berdekatan. Tambah lama perasaan di hati mereka semakin menghangat. Ayla tak tahu bagimana ia bisa terjatuh dalam pelukan Ray. Pelukan itu begitu lembut, namun terasa begitu kokoh melindunginya. Seolah-olah ia berada dalam sebuah ruang di mana tak ada seorang pun yang mampu menyakiti atau membuatnya bersedih.

Lalu Ray mencium Ayla. Sebuah ciuman yang membawa dalam, hangat, dan menjarah jiwa.

Bukan pertama kali ini Ayla berciuman. Tetapi baru kali inilah sebuah ciuman dapat membawa seluruh jiwanya pergi. Jika Ray meneruskannya, bukan hanya jwa Ayla yang akan ia bawa pergi, tetapi seluruh hidup, impian, kenangan, dan harapan gadis itu akan ia tarik ke dalam black hole tak berujung.

Karena itu Ray berhenti. Ia tidak ingin menghancurkan hidup gadis itu. Perlu perjuangan besar baginya untuk menghentikan semua ini. Karena ia adalah lelaki normal. Ia adalah lelaki sejati yang dapat membuat seluruh wanita di muka bumi ini bertekuk lutut dalam kepatuhan dan gairah tak berujung.

“Kenapa? Kamu gak suka aku ya?” tanya Ayla.

Ia seorang wanita. Seluruh wanita memiliki perasaan. Ketika tiba-tiba seluruh perasaan dipadamkan, maka ia akan menyalahkan dirinya sendiri.

Ray menggeleng. “Justru aku suka banget. Tapi kita udah ngelakuin yang terlarang….,”

Seandainya Ayla mengetahui betapa Ray merasa begitu munafik saat mengatakan kalimat itu, betapa Ray membutuhkan kekuatan yang amat besar untuk menghentikan dorongan perasaannya sendiri yang menggelora, maka Ayla tak akan meneteskan air mata.

Tetapi air mata sudah dijatuhkan.

Karena gadis cantik itu tidak percaya ada lelaki setampan dan sesempurna itu mengatakan bahwa bercinta adalah “terlarang”. Bagaimana mungkin lelaki yang hidup di jaman modern di tengah-tengah kota semegah Jakarta mengatakan hal demikian?

Memangnya elo lulusan pesantren mana? Anggota ormas garis keras? Jangan-jangan elo homo?

Atau kah yang ia katakan hanya alasan belaka? Apakah aku jelek? Mulutku bau? Ketek? Apa aku kurang cantik dibandingin ama yang lain?

Berjuta perasaan perempuan, melebur dalam pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung habisnya. Berujung pada air mata yang ia teteskan di pipinya. Karena jika seorang perempuan tak sanggup lagi berkata-kata, tak sanggup lagi berpikir, yang bisa ia lakukan hanyalah menangis.

Ray menyentuh pipi itu dengan lembut. Mencoba menghapus air mata di pipi gadis cantik itu.

Banyak lelaki mengatakan mereka membenci melihat perempuan menangis. Tetapi sesungguhnya, jauh di lubuk hati mereka, para lelaki sangat bahagia melihat seorang perempuan menangis untuknya. Menangis karenanya.

Karena itulah tanda perempuan itu mencintai laki-laki.

Tapi bagaimana mungkin Ray membiarkan Ayla jatuh cinta padanya?

Ia hadir dalam hidup Ayla hanyalah karena Keisha Vanya. Jika kasus bunuh diri Keisha berhasil diungkapnya, maka secepatnya ia akan menghilang dari hidup Ayla.

Kejam? Memang.

Tapi hidup memang selalu kejam. Ray telah mempelajari kenyataan itu sejak usianya masih sangat belia.

Ayla mendorong tangan Ray menjauh. “Kalo kamu emang gak suka aku, gak perlu pura-pura. Kamu boleh pergi aja. Gak usah datang ke sini lagi. Gak usah nyari aku lagi,” tangisnya tidak mereda.

“Ayla ingin aku jujur?”

Gadis itu mengangguk.

“Aku memang gak cinta ama Ayla. Tapi aku suka banget ama Ayla. Aku masih belum bisa melupakan kenangan masa lalu ku yang sampai sekarang masih menghimpitku. Tapi aku berusaha untuk keluar dari himpitan itu. Masa lalu adalah masa lalu, sesuatu yang harus aku lupain. Untuk itu aku butuh seseorang yang bisa bikin aku kuat. Sekarang mungkin aku belum bisa cinta ama Ayla. Tapi mungkin besok, lusa, minggu depan, tahun depan, entah kapan. Aku pasti bisa.

“Sekarang Ayla udah tahu kenyataannya. Terserah Ayla mau ngomong apa. Terserah Ayla mau nganggep aku apa. Tapi gak sedikit pun aku ada pikiran buat ngerjain atau manfaatin Ayla.”

Ray menatapnya dengan sungguh-sungguh. Siapa pula perempuan di muka bumi ini yang sanggup bertahan dari tatapan ini?

Ayla adalah perempuan.

Karena itu sekali lagi ia jatuh ke dalam pelukan Ray. Tapi kali ini pelukannya memberikan kelegaan perasaan. Ayla bisa mengerti. Lelaki yang memeluknya adalah lelaki yang,“Belum bisa move on, ya?” tanya Ayla. Meskipun ia menangis, ada tawa kecil di sudut bibirnya.

Ray tertawa.

“Siapa dia? Mantanmu itu. Gimana orangnya?”

“Sejak kecil aku dan Mara yatim piatu. Kamu beberapa kali berganti orang tua angkat. Dan orang tua angkat kami yang terakhir memiliki seorang anak perempuan. Namanya Rina,” kisah Ray.

“Rina? Ih nama standar banget. Kayak film Indonesia jadul,” kata Ayla sambil mencibir.

Ray tertawa lagi. Tentu saja ia tidak perlu bercerita bahwa Rina adalah putri tunggal dari seorang oyabun (boss) Yakuza yang paling ditakuti di Jepang. Oyabun ini memang ayah angkatnya. Bagaimana mungkin ia boleh jatuh cinta pada putri ayah angkatnya?Meskipun tiada hubungan darah, hal ini dianggap sebagai hal yang tabu.

Cinta Ray begitu dalam terhadap Rina. Mungkin karena itulah Ray tidak pernah mau terikat kepada wanita lain. Sebab, jika seorang laki-laki telah menyerahkan hatinya, maka ia telah menyerahkan seluruh hidupnya. Alangkah miripnya laki-laki dan perempuan. Tapi mengapa begitu berbeda?

“Cantikan mana ama aku?” tanya Ayla lagi.

“Tentu aja cantikan kamu,” kata Ray.

“Trus kok kamu gak bisa lupain dia?”

“Karena hatiku udah dibawa kabur duluan ama dia. Ini masih berusaha ngerebut kembali.”

“Ih, kayak lagu ‘Halo-Halo Bandung’. Jangan lama-lama ngerebutnya. Ntar aku bosen nungguin,” kata Ayla.

“Siap, boss!”

Bukan hal yang sulit bagi Ray untuk merayu perempuan. Sebentar saja Ayla sudah lupa dengan kesedihannya, dan mulai mengobrol ngalor-ngidul. Ray mulai menjalankan rencananya, yang merupakan tujuan sebenarnya.

“Eh, denger-denger sebelum Keisha meninggal ia ada rencana pindah ke luar negeri ya?” tanya Ray.

“Kamu tau dari mana?”

“Dari beberapa temen yang juga kenal ama dia. Sesama pemain sinteron.”

“Iya sih. Kata Keisha udah gak betah.”

“Kenapa gak betah?”

“Aku sebenarnya gak boleh ngomongin ini…..”

“Duh tambah penasaran. Emang kenapa sih?” tanya Ray tanpa ada kesan mencurigakan.

“Dia itu…, mmmm, bispak….,”

“Bisa pakai?”

Tentu saja artinya bisa dipakai untuk memuaskan nafsu.

Ayla mengangguk.

“Beneran?” Ray seolah tidak percaya.

“Artis-artis jaman sekarang kebutuhannya besar banget. Gimana caranya dia bayar kondo, atau beli mobil sport mewah kayak gitu? Emang bayarannya sebagai artis sinetron berapa? Belum make up, belum baju, belum tas….”

Ah, jadi ini kuncinya. Ray sebenarnya sudah curiga. Tapi ia butuh keterangan yang memperkuat dugaannya itu.

“Kalo artis-artis bispak kayak gitu, mestinya ikut jaringan tersendiri gitu yah. Kayak yang kemarin heboh ada artis ketahuan…..,” pancing Ray.

“Iya. Yang gue denger sih, sekarang jaringannya diperketat. Udah gak sebebas dulu. Soalnya yang pake jasa mereka itu pejabat-pejabat kelas atas. Kalo jaringan ini bocor bisa bahaya. Gue yakin Keisha bunuh diri gara-gara gak kuat lagi hidup kayak gitu. Dia orang yang baik banget sebenarnya. Terjerumus gara-gara butuh uang untuk gaya hidup.”

Perempuan yang rusak hidupnya gara-gara uang, mestinya bukan cuma Keisha saja. Begitu banyak perempuan di dunia ini yang mengalaminya. Sejak dahulu sampai sekarang, uang dan kemewahan adalah permasalahan utama dalam kehidupan mereka. Hal ini akan tetap menjadi permasalahan para wanita hingga ribuan tahun ke depan.

“Trus kenapa dia gak betah?”

“Katanya uangnya udah cukup. Udah bisa modalin usaha keluarganya. Dia pengen kembali ke jalan yang bener, sayang gak bisa. Sekali masuk ke dalam jaringan kayak gitu, kita gak bakalan bisa keluar dengan mudah,” jelas Ayla.

“Hmmm, kasian ya…, eh, pacarnya tau nggak kalo Keisha itu punya kegiatan gitu?”

“Setahu gue sih nggak. Keisha pintar banget nutupinya. Gue inget sempat membahas ini ama Keisha. Gue bilang dia harus hati-hati, karena jika pacarnya tau, hubungan mereka bisa berantakan.”

Dengan kenyataan ini, ada banyak kemungkinan yang bisa Ray buat atas penyebab kematian Keisha. Pacar yang cemburu, jaringan prostitusi yang berbahaya, pelanggan yang merasa terancam, keluarga yang malu, saingan yang cemburu, dan lain-lain. Dari sini, Ray bisa mengembangkan kasus ini dengan cukup mudah.

“Trus kalo Keisha pindah ke luar negeri, dia mau kerja apaan?”

“Katanya sih menulis. Dia hubungi banget menulis. Cuman dia gak suka pake komputer,” tawa Ayla.

“Lah nulis di buku?”

“Iya. Malahan rapi banget kalo nulis diary,”

Diary! Ray tidak melihat buku apapun saat ia masuk ke dalam ruangan gadis itu. Seseorang pasti telah mengambilnya!

“Berarti banyak dong diarynya?”

“Setumpuk. Kalo udah penuh disimpen di dalam lemari.”

Ya. Lemari itu sudah kosong saat Ray memeriksanya.

Menarik. Sungguh menarik!

“Kamu gak cerita ini ke polisi?” tanya Ray.

“Ngapain harus cerita?”

“Siapa tau bisa jadi petunjuk baru.”

“Petunjuk baru apaan?”

“Kali-kali aja dia nulis apa gitu di diary yang bisa jadi petunjuk baru….,”

“Iya petunjuk apa? Ih kamu gak jelas deh,” tukas Ayla sambil cemberut.

Bagaimana mungkin Ray menjelaskan tentang kriminalitas kepada Ayla? Gadis polos itu sendiri sudah yakin bahwa sahabatnya bunuh diri.


Akhirnya Ray hanya bisa mengubah arah pembicaraan. 


BAB 3

Rumah Anton Handika ternyata berupa sebuah kost-kostan. Ray mengelilingi tempat itu berkali-kali dengan sebuah sepeda motor. Ia memang mempunyai beberapa sepeda motor yang diparkirnya di beberapa tempat yang disewanya. Setelah menukar mobilnya dengan sebuah sepeda motor, perjalanannya menjadi lebih cepat. Ray datang dengan dibalut jaket kulit hitam serta sebuah helm yang menutup wajahnya.

Setelah menguasai betul keadaan daerah itu, Ray pulang. Ia mampir sebentar untuk membeli ayam pesanan Mara, lalu segera pulang kembali ke yacht-nya. Mara menyambutnya dengan senyum dan segera menikmati ayam dan kentang goreng.

“Apa rencana kakak terhadap Anton?”

“Kita membutuhkan bantuan Trix,” jawab Ray.

“Aha, menarik.”

Ray mengambil telponnya, lalu menghubungi seseorang.

“Halo cantik. Sibuk nggak?”

“Nggak juga, lagi nyantai malah. Ada tugas buat gue?” jawab suara renyah di telpon itu.

“Yup. Aku butuh kamu menjadi pacar seseorang. Aku ingin membantu orang ini mendapatkan harga dirinya kembali.”

“Oh, labour of love? Gue suka nih. Kirim detailnya lewat jalur biasa ya. Dan, ehm, harga buat jasa gue naik 25% sekarang,” kata suara itu sambil tertawa.
“Haha. Harga kamu gak kalah bersaing ama bensin, yah.”

“Iya dooong. Butuh pengeluaran besar nih sekarang.”

“Buat apa? Menggaet dan menipu kakak-kakek tua kaya raya?”

“Isssh. Itu sih kerjaan anak kecil. Gue udah berhenti dari yang gitu-gitu. Sekarang mau hidup tenang aja. Sambil bertualang kecil-kecilan. Haha.”

“Haha. Oke. Detailnya aku kirim besok ya. Sekarang mau nyusun dulu. Lusa kamu udah mulai bisa kerja. Seperti biasa, aku bayar separuh di depan. Separuhnya lagi kalo udah selesai,” kata Ray.

“Oke,”

“Muach. Bye!”

“Bye. Muach!”

Ray mengenal Trix saat seorang bilyuner tua berusia 60an asal Malaysia menghubunginya untuk meminta bantuannya. Sang bilyuner ini ingin menikahi seorang gadis muda yang amat cantik. Kakek ini belum merasa lega sebelum mengetahui seluruh latar belakang gadis itu yang baginya sedikit mencurigakan. Pengusaha hebat yang berumur sepertinya memang memiliki insting yang lebih tajam. Ray berhasil membongkar siapa sebenarnya gadis itu.

Trix, atau Beatrix, adalah seorang con artist. Alias penipu ulung. Para con artist biasanya melakukan tindakan penipuan yang epic, rapi, dan “indah”. Rencana Trix berjalan sangat mulus, sayangnya ia bertemu dengan Ray. Rencananya terbongkar, namun Ray melepasnya pergi asalkan gadis itu bersedia memutuskan hubungan dan membatalkan pernikahan. Kedua orang penipu ulung ini lalu saling mengagumi dan kemudian bersahabat.

Ray sering meminta bantuannya untuk melakukan penyamaran, karena Trix memang sangat hebat dalam hal ini. Dalam sekejap ia bisa berubah menjadi siapa saja: pramugari, business woman, dosen, ibu rumah tangga, anak SMA yang masih lugu, apa saja.

Beatrix, tentu saja adalah nama samaran. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mengetahui namanya yang asli. Wajahnya merupakan campuran paling sempurna antara timur tengah, oriental, dan bule. Dengan sedikit make up, ia bisa menonjolkan salah satu dari ketiga ras itu dengan mudah. Ia mempunyai bakat alami yang sangat besar dalam dunia akting, dan sempat terjun juga dalam dunia perfilman dan teater. Sayangnya dunia kriminal lebih menarik untuknya.

Ray mengetik sesuatu. Cukup lama ia berkutat di depan komputer, sambil memikirkan langkah-langkah yang ia lakukan. Mara membiarkan kakaknya tenggelam dalam pekerjaan itu karena ia tahu, di saat-saat seperti ini, Ray benar-benar mengerahkan segala daya pikirnya untuk menciptakan rencana yang matang.

Begitu selesai, Ray tersenyum puas. Dia lalu beranjak dari kursinya dan merebahkan dirinya di sebuah sofa panjang.

“Apa rencana kakak terhadap Anton?”

“Kakak hanya ingin merubahnya menjadi seorang lelaki sejati. Ini sebuah kerja yang panjang.”

“Mengapa kakak tertarik padanya?”

“Entahlah. Bagi kakak seorang laki-laki pantas mendapatkan cinta sejati. Dan untuk itu ia harus menjadi lelaki seutuhnya.”

“Lelaki seutuhnya? Emang dia bencong?” tawa Mara.

Ray hanya tertawa.

oOo

Setelah pulang mengantarkan Ayla dari tahlilan di rumah mendiang Keisha, dan mampir untuk mengobrol sebentar dengan kedua orang tua Ayla, Ray segera bergegas menuju kondotempat ia dan Diana bercinta seharian.

Ada sebuah pekerjaan yang harus ia lakukan saat itu. Ia membuka plafon dan memanjat ke dalamnya. Gerakannya sangat gesit karena ia memang sangat terlatih untuk itu. Tidak diperlukan waktu yang lama baginya untuk sampai ke kamar sebelah. Ray sudah memastikan bahwa ruangan yang dimasukinya ini memang kosong. Karena ruangan yang dimasukinya ini adalah sebuah TKP yang sudah disegel polisi.

Keisha Vanya melakukan bunuh diri dengan melompat melalui jendela ruangan ini.

Itulah sebabnya Ray menyewa kondo tepat di sebelahnya. Selama beberapa lama ia melakukan penyelidikan di tempat itu. Sayangnya banyaknya polisi dan wartawan yang berada di sana telah membuat seleruh jejak menjadi kabur.

Ray memeriksa seluruh sudut tempat itu dengan seksama. Tidak ada tanda-tanda kekerasan di sana. Semua isi ruangan masih seperti semula ketika nona itu bunuh diri. Ia nampaknya bukan seseorang yang rapi. Isi ruangannya cukup berantakan, tetapi masih dalam batas kewajaran. Bukan karena dibongkar atau digeledah orang.

Yang menyulitkan Ray adalah  jejak-jejak kaki para penyelidik dari kepolisian membuat amat sukar untuk menduga siapa saja yang telah memasuki kamar ini.

Ruangan ini sangat gelap karena tidak ada satu pun lampu yang dinyalakan meskipun di malam hari. Hal ini justru sangat membantunya dalam melakukan pergerakan dan penyelidikan. Ray menggunakan sebuah kacamata khusus yang membantunya melihat di dalam gelap.

Ia memeriksa segala hal. Isi lemari si nona. Piring-piring yang biasa ia gunakan untuk makan. Tempat sampah. Bahkan Ray memeriksa juga isi vacuum cleaner dalam gudang kecil. Hanya ada debu-debu biasa serta gumpalan kotoran yang biasanya ada di karpet. Tidak ada hal yang mencurigakan.

Dalam sebulan ini debu telah mulai menumpuk. Apalagi jendela kamar nona ini dibiarkan terbuka. Hal ini sesuai perintah polisi yang mewajibkan manajemen kondo untuk menjaga keadaan kamar ini hingga penyidikan selesai.

Begitu selesai memeriksa ruangan, ia kini beranjak ke balkon di luar. Dengan mengendap-endap, Ray memperhatikan seluruh keadaan di luar. Atas, bawah, kiri, kanan, semua tak lepas dari perhatiannya. Ia berada cukup lama di sana. Sampai kemudian ia menghafal seluruh keadaan dan mengambil kesimpulan.

Setelah semuanya selesai, ia segera memanjat plafon, menutupnya dengan rapi lalu kemudian kembali ke kamarnya sendiri yang berada tepat di sampingnya. Ia mengganti bajunya yang semula merupakan busana hitam legam yang biasanya ia pakai untuk pekerjaan seperti ini, dengan baju biasa sehari-hari.

Ray lalu berbaring di tempat tidur dan memikirkan segala fakta-fakta ini.

Malam tanggal 28 Mei, Keisha Vanya melompat dari balkon kamarnya. Diperkirakan mayatnya baru ditemukan di lahan parkir di bawah balkon, sekitar 5 sampai 10 menit kemudian karena waktu kejadian adalah di jam 1 malam. Saat itu suasana sepi karena hampir semua penghuni sedang beristirahat.

Polisi kemudian datang ke TKP sekitar 10 menit setelah mendapat laporan dari manajemen kondominium itu. Jasadnya lalu dibawa ke rumah sakit kepolisian untuk diotopsi. Tidak ada tanda-tanda kekerasan yang ditemukan. Keisha sedang menggunakan baju tidurnya ketika ia melakukan bunuh diri itu.

Hasil otopsi menunjukkan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya sebelum benturan akibat melompat dari balkon. Di dalam tubuhnya ditemukan kandungan alkohol yang cukup besar. Menurut laporan saksi-saksi Keisha memang baru pulang dari sebuah pesta bersama pacarnya.

Dari rekaman CCTV, terlihat sang pacar mengantarnya pulang namun hanya sampai pintu depan kondo milik Keisha. Terlihat pula mereka melakukan pertengkaran kecil, dan setelah itu sang pacar pulang. Seluruh rekaman kejadian ini dapat dilihat di rekaman CCTV yang dirilis ke publik. Jarak waktu sejak  kepulangan sang pacar sampai bunuh diri kira-kira 2 jam. Setelah itu, tidak ada seorang pun yang memasuki kamar Keisha sampai gadis itu melompat dari balkon kamarnya.

Seluruh barang pribadinya utuh dan tak ada satu pun yang hilang. Handphonenya berada dalam pengamanan polisi dan digunakan untuk keperluan penyelidikan.

Keadaan kamar dibiarkan seperti semula, meski jejak-jejak sudah tak lagi terbaca. Jendela kamar Keysha masih tetap terbuka, tempat tidurnya pun masih dibiarkan seperti itu. Gadis itu rupanya sempat berbaring beberapa saat sebelum kejadian yang mengerikan itu.

Ray memikirkan beberapa kemungkinan-kemungkinan. Sedikit banyak ia sudah dapat mengetahui jalannya peristiwa ini. Tetapi masih ada beberapa hal penting yang harus ia selidiki sebelum mengambil keputusan dan tindakan.
Setelah lama memeras otak, akhirnya ia tertidur kelelahan.

oOo

Bosnia di tahun 90an.

Ray kecil  digendong ayahnya, sedangkan Mara digendong ibunya. Bunyi bom dan senapan mesin menggelegar. Atap rumah mereka runtuh. Menimbun empat orang penghuninya yang malang. Hanya ada teriakan yang mengerikan. Darah. Mesiu. Ledakan. Papa! Mama!

Ray tersentak bangun. Mimpi buruk ini sangat sering dialaminya. Tubuhnya berkeringat deras padahal ruangan itu sangat dingin karena pendingin ruangan selalu diaktifkan. Ini bukan mimpi biasa. Ini adalah rekaman kejadian di masa lampau yang tak pernah bisa terhapus dari ingatannya. Kejadian ini pula yang membuat Mara tak pernah bisa tidur di dalam gelap.

Mereka berdua tidak pernah bisa lepas dari tragedi mengerikan di masa lalu.

oOo

Ketika Ray sampai di rumah di pagi hari, Mara sudah terlelap di kamarnya. Ia mengecup kening adik satu-satunya itu dan memperbaiki posisi selimutnya. Setelah itu ia kembal melakukan rutinitas latihan yang hampir setiap hari dilakukannya. Lalu memasak dan menyiapkan sarapan. Setelah itu memeriksa page Facebook Official: Rayden. Banyak pesan yang diterimanya. Ray membalasnya satu persatu namun meminta waktu untuk menyelesaikan permintaan para pengirim pesan. Pekerjaan yang harus dilakukannya cukup banyak, dan kebanyakan dari pesan-pesan yang masuk, Ray melihat bahwa permintaan itu masih bisa ditunda.

Ada sebuah pesan menarik yang masuk. Dari Aditya Warman. Orang ini adalah seorang inspektur polisi yang sering menggunakan jasa “Rayden”. Sang polisi tentu saja tidak pernah mengenal siapa “Rayden” sebenarnya. Justru Rayden yang menghubungi polisi itu dan memberi petunjuk tentang sebuah kasus yang sedang diselidiki inspektur muda itu. Sejak saat itu, sang inspektur sering menghubungi “Rayden” untuk berkonsultasi dan meminta petunjuk tentang kasus yang sedang ia hadapi.

Aditya Warman: Terima kasih banyak. Atas petunjuk anda Polri berhasil menumpas kawanan perampok bersenjata yang akhir-akhir ini bergerak di Bekasi.

Ray kemudian membalas pesan itu.

Rayden: Sama-sama pak. Saya sekarang sedang tertarik menyelidiki kasus Keisha Vanya.

Butuh waktu beberapa lama baru sang inspektur menjawab,

Aditya Warman: Oh, artis yang bunuh diri itu? Kebetulan saya yang menangani kasusnya. Hal apa yang ingin anda ketahui?

Rayden: Seluruhnya.

Aditya Warman: Tidak ada yang mencurigakan. Wanita cantik itu memang bunuh diri. Kepolisian sudah menyelidiknya dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Hasil otopsi memang menunjukkan kadar alkohol, namun dalam kadar yang tidak terlalu tinggi. Ini sesuai dengan fakta bahwa ia baru saja pulang dari pesta.

Rayden: Bagaimana dengan isi handphonenya?

Aditya Warman: Saya sendiri yang memeriksanya. Isinya seperti layaknya isi handphone anak muda. Ada beberapa video pribadi bersama pacarnya. Dari pesan-pesan dalam BBM, WA, atau email, semua normal saja. Tidak ada yang mencurigakan.

Rayden: Tidak ada kecurigaan terhadap pacarnya? Apa yang dibicarakan dalam pertengkaran mereka?

Aditya Warman: Alibinya sempurna. Ia berada di rumahnya saat bnuh diri itu terjadi. Dikuatkan dengan kesaksian orang tua dan penjaga rumahnya. Rekaman CCTV hotel juga menguatkan hal itu. Dalam penyidikan, si pacar bercerita bahwa pertengkaran yang terjadi adalah tentang ketidaksetujuannya terhadap rencana Keisha yang ingin pergi ke luar negri.

Rayden: Liburan, atau?

Aditya Warman: Katanya ingin mengembangkan karir di sana.

Rayden: Negara apa?

Aditya Warman: Amerika. Hasil penyidikan pun memperlihatkan bahwa nona itu sudah membuat paspor dan sedang mengurus visa. Rupanya almarhumah bertengkar dengan pacarnya, lalu karena kecewa karena keinginannya tidak dituruti, ia memutuskan untuk bunuh diri.

Rayden: Baik pak. Terima kasih untuk segala infonya.

Aditya Warman: Oh iya, saya ingin bertanya tentang kemajuan penyelidikan terhadap Garlas Tambora.

Rayden: Sedang dalam proses. Kami akan mengabarkan secepatnya.
Aditya Warman: Baik, terima kasih.

Ray kemudian log out dari page Facebooknya.

Menarik. Ia telah bisa merekonstruksi semuanya. Yang ia perlukan hanya bukti. Untuk sementara ia akan membiarkan kasus ini mengendap dahulu.
Ia menelpon Trix melalui sebuah sambungan secure.

“Hey!” suara Trix terdengar renyah.

“Sudah siap?”

“Tinggal tunggu eksekusi. Gue seharian kemaren sudah melakukan yang kamu suruh. Udah nyelediki semua kegiatan Anton. Gue juga udah nyelidiki mantannya yang bernama Lena itu. Data-datanya semua sudah lengkap. Ini sekarang gue di mobil lagi buntutin si Lena ama cowoknya. Dia pake mobil yang plat nomernya kamu kasih kemarin itu. Gue juga udah masang pemancar di mobil itu. Kamu bisa cek sinyalnya pake device biasanya. Percakapan mereka dalam mobil juga bisa kamu dengar dan lihat.”

“Oke. Gue hubungin si Anton dulu. Tunggu perintah dari gue.”

Ray mematikan sambungan telepon.

Dari data yang kemarin berhasil dibobol Mara, ia telah mendapatkan telepon si Anton. Ray menelpon nomer itu dengan sambungan telepon kabel. Mara telah memodifikasinya sedemikan rupa sehingga tak mungkin terlacak. Dengan menekan sebuah tombol, suara Ray dapat berubah dengan drastis.

“Anton Handika?”

“Iya benar.”

“Aku Rayden. Masih ingat dengan perjanjian kita?”

Anton terhenyak sebentar, lalu kemudian dapat menguasai dirinya, “Anda tahu nomer telpon saya dari mana?”

“Sekarang bukan saatnya tanya jawab. Jika kamu sudah siap, kini saatnya beraksi.”

“Baik. Saya sudah siap sejak tadi.”

Ray mengecek sinyal pelacak yang terpasang di mobil pacar Lena. “Anton, kamu berangkat ke daerah Sudirman. Aku akan menghubungimu di perjalanan. Tunggu perintah selanjutnya.”

Ia mematikan sambungan dan menekan sebuah tombol lagi. Sebuah kamera yang dipasang secara rahasia oleh Trix di dalam mobil Ryan menyala.

Lena dan Ryan sedang mengobrol.

“Sayang, trus gimana dengan uang lo yang hilang dari rekening itu?” tanya Lena.

“Gak tau gimana tuh. Mungkin gegara dompet gue ilang, ada yang pake ATM gue. Tapi heran juga gimana caranya mereka tau PIN gue ya? Papa udah hubungin bank sih. Sekarang sedang diusut ama polisi juga,” jelas Ryan.

“Ih pinter banget ya malingnya bisa bobol PIN,” setelah diam sejenak, Lena berkata, “Sayang aku laper.”

“Mau makan di mana?”

“Terserah,” jawab Lena.

“Ke Freiya aja yuk?”

“Boleh.”

Ray menghubungi Trix, “Udah dengar kan? Mereka ke Freiya. Kamu pake earphone ya. Biar aku gak perlu nelpon-nelpon.”

“Beres!”

Ear phone yang dimaksud Ray adalah sebuah alat kecil khusus yang dimasukkan ke dalam lubang telinga. Dari luar sama sekali tidak kelihatan, tetapi Ray dan Trix dapat berhubungan dengan lancar tanpa diketahui orang.

Ray mengirim pesan ke Anton. “Ke Freiya sekarang!”

Sambil menunggu semua orang sampai ke Freiya, Ray santai sejenak. Hari ini, entah bagaimana, semua berlangsung lancar. Posisi Anton sangat dekat dengan Freiya. Tak berapa lama lagi semua permainan ini akan di mulai.

Dalam 15 menit, pesan dari Anton tiba,“Saya sudah di depan Freiya.”

Good. Seorang gadis cantik akan jadi pacarmu sekarang. Ikuti saja permainannya.”

Begitu Anton memasukkan HP-nya ke dalam tas, tiba-tiba tangannya telah digandeng oleh seorang gadis yang sangat cantik. “Hey sayang!”

Anton kaget, tapi ia melakukan persis seperti yang diperintahkan: mengikuti permainan.

“Halo juga sayang. Udah nunggu lama?” tanya Anton.

“Ini baru nyampai. Makan yuk? Aku lapar.”

Ray berkata melalui earphone, <Tunggu dulu. Tahan sebentar sampai Lena dan pacarnya tiba. Masukkan sebuah earphone ke dalam kuping Anton>

Trix pura-pura mengusap rambut “kekasihnya”. Dengan cepat ia memasukan earphone itu ke dalam telinga Anton. <Hai Anton, you are online now> sapa Ray. Kini mereka bertiga sudah bisa saling mendengar.

Trix lalu memperhatikan sekeliling dengan cermat tanpa membuat gerakan mencurigakan. Ini memang keahliannya. Setelah Lena dan pacarnya terlihat, ia lalu menarik Anton masuk.

Kedua pasangan “kekasih” ini memasuki Freiya, kemudian bergabung ke dalam antrian yang cukup panjang. Lena dan Ryan mengantri tepat di belakang mereka.

“Itu Anton, kan?” bisik Ryan kepada Lena. Gadis itu hanya mengangguk.

“Anton?” seru Ryan. Anton menoleh. Dilihatnya Lena dan Ryan sedang berdiri persis di belakang dirinya. Jika bukan karena menyadari bahwa ia sedang berada di dalam permainan, Anton tentu akan kaget setengah mati. Tapi ia kini sudah menyadari, segala peristiwa ini telah diatur oleh Rayden.

“Eh, gak nyangka ketemu di sini,”

<Anton, minta maaf kepada Ryan dan katakan ini semua salahmu. Kamu kini pengen hidup dengan damai dan gak ingin mengganggu mereka> perintah Ryan melalui earphone.

“Ryan, gue minta maaf banget atas kesalahan gue kemaren. Gue janji gak bakalan ganggu kalian lagi,”

Ryan hanya mengangguk. Tapi lirikan matanya tidak lepas dari Trix. Dalam sepanjang hidupnya, baru kali ini Ryan bertemu dengan gadis secantik ini. Wajahnya anggun, bibirnya tipis sexy, tulang pipinya tinggi, matanya besar namun agak sedikit sipit di ujungnya. Kulitnya bercahaya, badannya padat dan montok. Potongan kaosnya yang tipis membuat belahan dadanya muncul dengan anggun.

Ryan hanya bisa menelan ludahnya dan pura-pura melihat ke counter.

<Minta maaf ke Lena juga> perintah Ray.

“Lena maafin gue ya, selama ini udah ngecewain elo, dan bikin elo gak bahagia,” kata Anton. Matanya berkaca-kaca.

Alasan seorang wanita meninggalkan kekasihnya memang adalah karena tidak bahagia. Kebahagiaan wanita tidak dapat diukur dan hanya ia sendiri yang mengerti. Karena itu ia tidak akan berhenti mencari kebahagiaan itu. Meski berganti-ganti kekasih, kemungkinan besar kebahagiaan yang ia cari tak akan ia temukan. Penderitaan yang dihasilkan karena pencarian itu pun sungguh besar. Biasanya yang paling menderita adalah para kekasih yang ditinggalkannya. Tetapi jauh di balik bayang-bayang, justru sang perempuan lah yang paling menderita. Menderita oleh keinginannya sendiri.

“Eh, siapa ini sayang? Kok aku gak dikenalin?” tanya Trix.

“Oh ini temen-temen gue. Ini Ryan, ini Lena…., Ini pacar baru gue namanya…”

“Putri,” sambung Trix.

Mereka bersalaman. Ada bayang kecemburuan di mata Lena. Mantannya mendapatkan pengganti yang jauh lebih cantik darinya. Jauh lebih kaya karena Putri memakai iPhone gold, dan tas bermerk yang harganya puluhan juta. Seorang wanita memang dapat melihat status wanita lain hanya dalam sekali pandang.

Ada bayang iri di mata Ryan saat memandang Anton. Lelaki yang baru saja dihajarnya ini malah mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik, lebih kaya dari pacarnya yang sekarang.

Makan siang kemudian selesai. Anton dan Putri pulang duluan. Dari dalam restoran fast food itu, Ryan dan Lena dapat melihat bahwa kedua orang itu pergi dengan menggunakan sebuah mobil Baby Benz terbaru.

Pergi sambil tertawa bahagia.

Meninggalkan dua orang yang terbakar oleh api kedengkian.


oOo


“Wahhh seru! Tadi itu seru banget!” seru Anton.

Trix hanya tertawa.

“Drama kita tadi sukses. Tapi sungguh, aku gak ingin menyakiti hati dia…..,” kata Anton.

“Ya. Kamu hanya ingin dia kembali, kan?” tanya Trix.

Anton mengangguk.

<Untuk membuat seorang wanita tertarik padamu, kamu harus membuat dirimu menarik. Dan tak ada yang lebih menarik di mata perempuan selain lelaki yang sanggup memiliki kekasih sempurna. Pasti ada sesuatu pada lelaki itu sehingga ia mampu memiliki daya tarik terhadap perempuan maha cantik yang sempurna. Hal ini menumbuhkan misteri tersendiri. Daya tariknya tersendiri> jelas Ray melalui earphone.

“Tuh dengerin kata ahlinya,” sahut Trix sambil tertawa.

<Kita baru sampai di langkah pertama. Besok, kamu berangkat Amerika> kata Ray.

“Haaa? Amerika? Besok. Saya belum punya pasport, belum ngurus visa, gak punya uang……,” Anton terbelalak.

“Tenang saja, semua sudah diurus kami. Besok kita berdua jalan-jalan sambil belajar Gracie Jiu Jitsu di sana,” jelas Trix

“Apa itu Gracie Jiu Jitsu?” tanya Anton.

“Sebuah bela diri yang sangat hebat. Kau akan belajar langsung dari Rener dan Ryron Gracie, mereka adalah cucu dari pencipta Gracie Jiu-jitsu,”

<Kami akan mengubahmu menjadi lelaki yang sesungguhnya!>kata Ray

“Keren!” sahut Anton penuh semangat.

“Sekarang, jalan-jalanlah dengan Putri. Kalian akan shopping. Putri akan membelikan semua keperluanmu.”

“Kereeeeen! Tapi…tapi kenapa kalian melakukan semua ini?”

<Anggap saja kami jawaban Tuhan atas doa-doamu….> tukas Ray.

“Amin!”

Seandainya semua lelaki yang patah hatinya bertemu dengan Rayden, tentu dunia tak akan semuram ini.


oOo


Lena membuka Instagramnya. Memperhatikan foto-foto Anton yang sedang liburan bersama Putri di Amerika. Api cemburu membakarnya. Menghanguskannya. Lalu membuatnya meneteskan air mata.


Perempuan memang aneh. Meskipun mereka telah meninggalkanmu dan sudah tidak mencintaimu, mereka tetap berharap kau tidak berhenti mencinta mereka. Mereka selalu berharap kau menderita di dalam kerinduan dan cinta yang terbalaskan.